Para ahli telah meneliti bahwa limbah sagu berupa kulit kayu (uyung) dapat dijadikan briket sebagai bahan bakar alternatif. Sampah sagu tersebut bisa diubah menjadi rupiah melalui penerapan teklogi canggih. Pemanfaatan uyung menjadi briket, pernah dipaparkan oleh staf ahli dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Sudarja, beberapa waktu lalu.Dalam tulisannya, Sudarja mengatakan bahwa uyung memiliki kalori atau energi panas cukup tinggi. Limbah itu potensial dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif karena berdasarkan penelitian kami terbukti memiliki kalor atau energi panas cukup tinggi, yakni rata-rata sekitar 7.200 kcal/kg, yang berarti memenuhi standar Jepang dan Amerika Serikat.
Sementara peneliti dari Universitas Negeri Cenderawasih (Uncen), Agustinus juga menyebutkan, selain uyung, ampas sagu dapat juga diolah menjadi briket arang sebagai pengganti bahan bakar minyak.
Menurut Sudarja, proses pembuatan briket bahan bakar limbah sagu ini tidak terlalu sulit. Diawali dengan memotong-motong kayu aren menjadi 3-4 cm. Kemudian potongan kayu itu dipanaskan dalam alat pembuat arang yang disebut Retort selama 4 jam. ”Dalam proses pembuatan arang ini, limbah sagu aren mengeluarkan asap yang sangat banyak sehingga ketika limbah sagu arang sudah dalam bentuk briket sudah tidak lagi mengeluarkan asap yang banyak,”tambahnya.
Setelah menjadi arang, limbah sagu tadi dihaluskan menjadi serbuk. Bisa dilakukan secara manual dengan cara ditumbuk, maupun menggunakan mesin. Kemudian serbuk arang yang sudah halus disaring dengan menggunakan saringan dengan kekasaran tertentu. “Penyaringan digunakan untuk menyeleksi kehalusan serbuk arang tersebut,” imbuhnya.
Setelah itu, serbuk arang tersebut dicampur dengan air dan perekat (pati) yang sudah direbus. Perekatnya juga dapat menggunakan tetes tebu. Selanjutnya campuran tersebut dicetak dengan mesin pres. “Bentuknya sesuai selera dan cetakan yang ada, bisa silinder, balok, bola ataupun bentuk yang lain sepanjang kita punya cetakannya, tetapi saya sarankan bentuknya jangan silinder atau balok, karena kemungkinan akan mengalami kesulitan pada waktu pembakaran, sebabnya rongga antar briket akan kurang dan oksigen juga kurang,” ungkapnya.
Tak jauh bedanya dengan uyung, menurut Agustinus, pembuatan briket arang dari ampas sagu dapat dilakukan dengan menggunakan alat dongkrak hidrolik yang harganya cukup terjangkau. "Cara pembuatannya juga cukup mudah sehingga bisa diterapkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan dikembangkan dalam industri skala rumah tangga," katanya.
Agustinus yang juga menjelaskan, untuk mendapatkan briket arang sebagai bahan bakar, ampas sagu dikeringkan dan dibakar hingga menjadi serbuk arang ampas sagu. Setelah itu, material tersebut dicampur dengan tapioka untuk meningkatkan daya ikat agar tidak retak atau hancur pada saat proses pencetakan.
Pencetakan briket dilakukan dengan menggunakan dongkrak hidrolik hingga mencapai standar kerapatan tertentu. Setelah itu, briket arang sagu dikeringkan di bawah sinar matahari dan siap digunakan sebagai bahan bakar. Selain dapat dibuat menjadi briket arang, ampas sagu dapat pula diolah menjadi papan semen untuk bangunan setelah terlebih dahulu dicampurkan dengan semen.
Penelitian para ahli ini mendapat perhatian investor dari Finlandia, yang baru-baru ini menjajaki sampah sagu di Kepulauan Meranti. Rombongan dari Finlandia itu menyebutkan akan mengolah limbah sagu di Meranti. Survei lapangan pun sudah dilakukan, termasuk rencana pembuatan pelabuhan. Jika proyek ini berhasil diwujudkan, maka Kepulauan Meranti bisa mengeskpor uyung sebanyak 10.000 ton per bulan ke Eropa.
Investor dari Finlandia tersebut sudah menemui para pejabat di Meranti. Mereka bertemu langsung Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Masrul Kasmy MSi,. yang didampingi Asisten I, Drs. Ikhwani, Kepala Bappeda Drs. H. Nuriman Khair MH dan Sekretaris Bappeda Kepulauan Meranti Viviyanti DPH MhealSc, di ruangan kerja Wabup.
Dalam pemaparannya, jurubicara investor Finlandia, Daniel menjelaskan bahwa investasi yang akan dibangun di Kepulauan Meranti ini sudah memasuki tahapan survei lokasi yang akan dibangun pelabuhan ekspor serta beberapa izin lainnya, diantaranya izin NPWPD dan Surat Domisili. “Kami menargetkan 10.000 ton kulit sagu untuk diekspor ke Eropa. Kami membutuhkan dermaga yang sesuai standar ekspor barang ke Eropa. Kami akan berkoordinasi dengan para pemilik bangsal sagu yang ada, dan usaha sagu industri rumah tangga agar dapat mensuplai bahan baku untuk kebutuhan ekspor tersebut,” kata Daniel.
Wabup Masrul menambahkan, bahwa Pemkab mengucapkan terima kasih kepada pihak investor yang bersedia memanfaatkan limbah kulit sagu untuk dijadikan bahan bio energi pembakaran batubara. Pasalnya, selama ini pemahaman kita bahwa kulit sagu hanyalah limbah industri dan tidak dapat digunakan lagi, ternyata keliru.
“Kita akan memberikan kemudahan dalam perizinannya. Terkait target ekspor, kita akan memenuhi kebutuhan bahan bakunya. Saat ini produksi sagu di Kepulauan Meranti sekitar 8000 ton sebulan,” kata Wabup.
Wabup juga mengingatkan dinas terkait—yakni Bappeda dan Badan Penanaman Modal, Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kab. Kepulauan Meranti--untuk segera menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan investor Finlandia tersebut.
“Saat ini persoalan air bersih menjadi kendala investasi tersebut, karena bisa berpengaruh terhadap kualitas pelet. Tapi akan kita carikan solusinya. Hal positif yang harus direspon dalam produksi usaha ini adalah, dapat meminimalisir pembakaran batubara yang menyebabkan banyaknya emisi CO2. Karena, jika dicampur dengan pelet tersebut, maka ia dapat mengurangi sebesar 6-7 persen pembakaran CO2. Dan kita sudah menggalakkan dan menerapkan program dunia, yakni Go Green dalam mengurangi emisi,” jelas Wabup. (*)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar